TAHUKAH KITA MENGAPA US $ MENJADI
SATU SATUNYA PATOKAN NILAI MATA UANG DUNIA
BY: Raditya reza
Dimulai dengan perjanjian Breton woods setelah perang dunian ke
2 dimana efeknya sangat terasa samapai sekarang ini, perjanjian tersebut
mengcantumkan menggunakan emas sebagai standar global matauang. Pada saat itu
ekonomi dunia porak poranda akibat perang kecuali Amerika Serikat, sehingga Negara
di dunia sangat bergantung pada pinjaman dari Ameriaka Serikat.
Pinjaman pun di berikan pada Negara-negara di dunia dalam bentu
US $, dengan jaminan Amerika menerima Emas dari Negara Negara tersebut,
sehingga praktis hanya amerika yang menguasai emas di dunia dan hanya mata uang
US $ yang mata uangnya di sokong oleh Emas.
Secara praktis, ini berarti Dollar Amerika telah
menggantikan emas sebagai sumber likuiditas perekonomian dunia dan menjadi
basis sistem keuangan dunia. Implikasinya, setiap negara membangun cadangan
devisa dalam bentuk Dollar Amerika; cadangan Dollar diperlukan agar mata uang
negara yang bersangkutan dapat ditukarkan dengan Dollar atau emas.
Pada saat ini lah mata uang Amerika itu menjadi
mata uang internasional. uang Normalnya,
sebuah Negara mendapat pendanaan salah satunya dengan memungut pajak dari
rakyatnya. Namun, bagi Negara superpower mereka dapat memungut pajak dari
Negara-negara lainnya. Itulah yang berabad-abad kita saksikan terjadi dalam
imperium yunani, romawi, ottoman, dan bahkan hingga Inggris raya.
Namun, untuk pertama kalinya, Amerika serikat pada abad 20 bisa
memajaki negara-negara lain dunia secara tidak langsung melalui beban inflasi
penciptaan mata uang dollar yang tidak didukung dengan logam berharga. Mata
uang dollar yang terdistribusi secara luas menempatkan Amerika pada tempat
istimewa. Negara-negara lain harus berkeringat menyerahkan hasil buminya dari
minyak, tuna, rotan, kayu, emas, tembaga sementara sang superpower cukup
menukarnya dengan uang kertas yang bisa dicetak kapan saja dan tanpa memiliki
nilai intrinsik sedikit pun. Risiko terjadinya inflasi dari penciptaan dollar
yang berlebihan dengan cerdik dialihkan kepada 60 % lebih penduduk bumi yang
menggunakan mata uang ini.
Stabilitas mata uang
Dalam perdagangan internasional tidak semua jenis mata uang
memiliki legitimasi dan dapat dipergunakan secara luas. Negara berkembang
misalnya, jarang yang menggunakan mata uang local untuk urusan transaksi
internasional karena mata uang mereka dianggap volatile (tidak stabil).
Lantaran itu, mereka menggunakan uang yang relative kuat seperti dollar.
Kriteria stabil ini perlu dites dan diteliti lebih lanjut.
Apakah dollar benar-benar mewakili mata uang yang stabil? Banyak ekonom yang
berpendapat selama itu masih berupa fiat money, dimanapun ia akan menyimpan bom
waktu ketidakstabilan sepanjang masa. Salah satu argumen utamanya, karena
pemerintah gampang tergoda menerbitkan uang dalam jumlah yang tak terbatas
(unlimited) dengan konsekuensi meroketnya tingkat inflasi.
Bisa disimpulkan bila Amerika menikmati pendapatan yang luar
biasa besar dari penciptaan uang ini atau yang dikenal dengan istilah seigniorage(Pendapatan
dari penerbitan mata uang). Keuntungan dari penciptaan mata uang semakin besar
ketika banyak pendukung yang mensirkulasikan mata uang dollar tersebut ke
seluruh penjuru dunia. Karena itu, sangat tidak adil bagi kebanyakan Negara
berkembang di mana para buruh bekerja membanting tulang hanya untuk mengejar
pendapatan $2-$5 per hari, sementara The Fed dengan sangat leluasa bisa
mencetak dollar hampir unlimited untuk membiayai anggaran belanja Negara dengan
konsekuensi orang seluruh dunia pengguna dollar ikut “menyumbang” dengan
membayar inflasi yang diakibatkannya. Dengan kata lain, pemerintah Amerika secara
tidak langsung bisa memajaki pemegang dollar di seluruh dunia melalui skema
anggaran yang terinflasi.
The Fed
dapat leluasa mencetak Dollar
Tak dapat disangkal saat ini dollar AS menjadi mata uang yang
paling banyak dipakai di penjuru bumi. Dollar tidak hanya dipakai dalam
perdagangan internasional, tapi juga menjadi mata uang yang paling banyak
disimpan secara resmi sebagai cadangan devisa oleh banyak negara.
Kenapa kebanyakan Negara berlomba-lomba menyimpan dollar, bukan
euro, poundsterling, yen. Boleh jadi alasan tersebut karena dollar menjadi
satu-satunya alat pembayaran untuk komoditi minyak (minyak merupakan sumber
energi bagi negara manapun).
Alasan rasional lain karena peran Amerika sebagai mesin ekonomi
dunia. Ketika kemudian dalam perdagangan dunia, impor AS melebihi ekspornya
(diperkirakan 75% total impor dunia diserap oleh Amerika sendiri), tak pelak
dollar membanjiri pasar dunia. Para eksportir dari belahan dunia menerima
pembayaran impor dari mitra dagangnya dalam bentuk dollar. Kemudian mereka
menukarkan sebagian dollar tersebut ke dalam mata uang domestik ke bank
sentral. Ketika dollar masih di-back up dengan emas, sebagian aliran dollar
itu oleh bank sentral kemudian dikonversi menjadi emas dengan menukarkannya ke
bank sentral AS, The Fed.
Namun ketika tuntutan konversi dari dollar ke emas mulai
menggunung dan mulai sulit dipenuhi, AS memainkan kartunya dengan menghentikan
konvertibilitas Dollar sekaligus menandai ambruknya sistem Bretton woods yang
menghargai 1 ons emas = 35 Dollar AS. Mulai saat itu juga para eksportir dari
seluruh belahan dunia menerima pembayaran komoditinya dengan Dollar -uang
kertas yang nominalnya tak segram pun didukung dengan emas.
Tiga
indikator dasar
Kemampuan Dollar untuk terus bertahan menjadi alat pembayaran
utama bisa dideteksi dari tingkat kepercayaan penggunanya. Kepercayaan tersebut
sangat bergantung pada kemampuan AS dalam memelihara stabilitas dan
kesinambungan fundamental ekonominya. Inflasi, pengangguran, dan tingkat hutang
merupakan tiga indikator dasar yang dapat dijadkan acuan dalam menilai
stabilitas fundamental ekonomi suatu Negara.
AS berhasil mengendalikan tingkat inflasinya sejak tahun 1982
dan seterusnya hingga tahun 2007 berfluktuasi tipis antara 1% hingga 6 %.
Tingkat pengangguran dapat dikatakan dalam posisi yang moderat berkisar antara
4% hingga 9 % dengan catatan semakin menurun dari tahun ke tahun. Dari 2
indikator tersebut dapat dikatakan bahwa AS tidak memiliki masalah serius dalam
fundamental ekonominya.
Namun bagaimana dengan tingkat hutang luar negerinya?? Total
outstanding hutang AS dari tahun ke tahun terus meningkat. Pada tahun 1998
jumlahnya mencapai 5,5 triliun dollar lebih dan meningkat menjadi 6,2 triliun
di akhir tahun 2002. Bila sebelumnya AS dikenal sebagai Negara pemberi hutang,
saat ini beralih menjadi Negara yang terjerat hutang yang tak terbayangkan.
Bedanya, bila Negara-negara miskin harus berjuang sendirian untuk melunasi
hutangnya, AS bisa mendapatkan solusi yang lebih elegan dengan melibatkan
seluruh masyarakat dunia pengguna Dollar untuk bersama-sama menanggung inflasi
yang diakibatkan Dollar tersebut.
Manipulasi
pasar modal domestik
Robert Heller, anggota Federal Reserve Board , pada tahun 1989
mengeluarkan pernyataan bahwa atas nama stabilitas ekonomi, The Fed bisa saja
membeli saham di pasar modal dalam jumlah besar untuk menstabilkan pasar dari
ancaman inflasi akibat dari banyaknya jumlah Dollar yang beredar di masyarakat.
Pernyataan ini sangat irasional karena terdapat berbagai persoalan teknis
seperti, bagaimana cara The Fed (sebagai bank sentral) untuk masuk ke dalam
mekanisme pasar modal.
Ide menstabilkan pasar ini mengingatkan kembali tentang
keberadaan tim khusus untuk menangani pasar modal setelah terjadinya market
crash 1987. Tim yang dikenal dengan WGFM (Working Group on Financial Market),
didirikan pada tahun 1988, adalah tim ad hoc yang terdiri dari menteri
keuangan, gubernur The Fed, ketua Securities and Exchange Commision (semacam
Bappepam), dan ketua Commodity Futures Trading Commision. Tugas utama dari tim
ini adalah untuk mangambil tindakan yang “dianggap perlu” untuk menjaga daya
saing dari pasar uang AS.
Dalam kesempatan lain, Alan Greenspan pernah menyatakan bahwa
The Fed juga melakukan upaya-upaya lain yang disebut“unconventional method” untuk menstabilkan ekonomi. Tidak
menjelaskan secara terperinci apa maksud metode yang tidak konvensional itu,
namun sumber yang tidak mau disebut nama dari The Fed mengakui langkah yang
dimaksud adalah mengordinasikan korporasi-korporasi AS untuk saling memborong saham
korporasi AS lainnya dalam rangka menarik Dollar yang beredar “terlalu banyak”
di masyarakat.
Kesimpulan
Ketika suatu sistem dipimpin oleh pihak yang kurang tepat, maka
akan hadir kebijakan yang tidak adil. Faktanya, AS adalah satu-satunya Negara
yang dapat mencetak mata uangnya sendiri tanpa khawatir akan meroketnya tingkat
inflasi.
Sistem ini tidak disia-siakan oleh AS. Kemampuannya mencetak
uang tanpa batas telah memicu kemauan pemimpin Negara tersebut untuk menjadi
rakus akan kekuatan yang dibuktikan dengan menjadi promotor perang Irak,
menciptakan konspirasi kemiskinan di Darfur, serta menjaga ketidakstabilan
perdamaian timur tengah yang kesemuanya itu dilakukan melalui mesin-mesin
perangnya.
Menjadikan fiat money yang tak sedikit pun di-back up dengan
logam mulia bagaikan menyimpan bom waktu yang siap meledak kapan saja. Hal
tersebut terjadi ketika disekuilibrium ekonomi tak tertahankan lagi seperti
peristiwa great depressionyang
melanda AS dan krisis moneter yang menghantam seluruh Negara Asia tenggara.
Ekonom-ekonom dunia memahami dengan baik fakta tersebut namun yang mereka
lakukan justru tetap mempertahankan fiat money dan sekedar menunda terjadinya
krisis keuangan berikutnya.
Pertanyaannya, perlukah kita kembali memilih standar emas atau
sistem yang mendekati seperti mekanisme Bretton Woods dulu?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar